dwirezkiagung

Selamat malam pemirsa, pengen posting malam-malam mumpung ada ide datang. Kali ini saya akan share perjalanan ke Gunung Rinjani. Mestinya saya ingin pakai judul ‘Pesona Paket Lengkap Gunung Rinjani’, tapi nanti takut keyword nya gak masuk banyak di Google hehe. Jadi akhirnya pakai Pesona Gunung Rinjani itu saja.

Kenapa awalnya saya ingin menambahkan Paket Lengkap di postingan ini? Saya sebutkan terlebih dahulu apa saja yang ada dalam Taman Nasional Gunung Rinjani via Plawangan Sembalun ini ya, untuk menarik teman-teman sekalian untuk sesegera berkunjung ke sana. Setelah itu akan saya jelaskan perincian berapa hari, dan proses perjalanan ini.

Beberapa Kelebihan Gunung Rinjani Menurut Pengalaman Saya

  • View, view yang bisa kamu dapat sepanjang trekking adalah padang savana pada sekitaran pos 2, view Danau Segara Anak, Gunung Baru Jari (gunung yang berada di tengah danau), dan pastinya puncak gunung tertingginya akan terlihat pada pos terakhir Plawangan Sembalun.
  • Puncak gunung tidak berapi, berbeda dengan gunung-gunung lain seperti Semeru, Merapi, Sinabung, dll. yang mengharuskan para pendaki turun sebelum pukul 9 pagi agak tidak menghirup asap beracun puncak. Gunung Rinjani ini puncaknya tidak berapi, jadi jika pendaki ingin melakukan summit puncak bisa juga dilakukan di pagi hari. Tetapi saran saya jangan ambil resiko turun dalam keadaan sudah gelap karena medan cukup curam.
  • Danau Segara Anak, ini hampir sama dengan Ranu Kumbolo nya Semeru yang merupakan kelebihan. Kelebihan di sini yang pastinya dapat view indah tempat tersebut dan pasokan air bersih berlimpah. Cuma bedanya kalau di Segara Anak sumber airnya ada di tempat berbeda bukan ambil langsung dari danau.
  • Ikan berlimpah, jangan lupa bawa pancing ya kalau ke Rinjani. Entah waktu itu beruntungnya kita berkunjung saat awal buka kembali setelah meletusnya Gunung Baru Jari atau memang stok ikan di sana sungguh berlimpah, kita mulai mancing sekitar pukul 5 sore – 8 malam sudah dapat lumayan banyak sekitar botol 1.5lt hampir full. Dan teman kita pendaki ulung bernama Sinyo mandi malam sambil ngobrol dengan porter-porter, besok paginya sudah ada Mujaer segede telapak tangan Mike Tyson lebih banyak dari hasil pancingan sore nya. Saya tanyakan mancing pakai apa? Katanya ‘cuma pakai tangan’, emang warga sekitar joss haha.
  • Air panas, ini salah satu paket lengkap yang paling saya kangenin. Setelah capek trekking mandi dan berendam santai dimari aja guys.
  • Air terjun, meski tidak terlalu tinggi tapi ya sama saja itu namanya air terjun. Ini aliran air dari Segara Anak menuju ke sungai-sungai kecil, satu tempat dengan pemandian air panas. Jadi setelah mandi-mandi berendam air panas bisa lanjut bilas di air dinginnya. Sip kan?

Oke itu tadi beberapa kelebihan Gunung Rinjani, sudah termasuk kategori paket lengkap teman-teman kah? Sekarang lanjut cerita tentang proses perjalanan ya.

Proses Perjalanan Hingga Sampai ke Loket Pendakian

Kita berangkat pada hari Kamis malam tanggal 24 Desember 2015 dengan bermotor, iya bermotor. Saat itu kita berdua yaitu saya dengan ‘Bajuri’ si porter, menggunakan motor Honda Beat bagian belakang motornya kita tambahkan kayu ditali pada planger (besi pegangan belakang) tujuannya untuk menopang tas keril orang yang dibonceng. Dan kita ganti bannya ke Tubeless untuk jaga-jaga menghindari ban bocor. Kan ngga lucu kalau tengah malam melewati Alas Baluran atau tempat antah berantah lainnya dan ban kita bocor, malah ngga sampai-sampai jadinya..

Kita mulai keluar rumah sekitar pukul 10 malam, janjian ketemu dengan 2 pendaki dari Malang. Karena kita memang sebelum berangkat coba share dan cari teman di Instagram/FB mungkin ada yang mau diajak bareng bermotor di tanggal yang sama, dan kebetulan ada yang sesuai tanggalnya. Jika seumpama tidak ada teman kita akan tetap nekad berangkat cuma berdua seperti kisah Duet Maut dalam 2 hari menuju Semeru.

Perjalanan Dari Surabaya ke Bali lanjut Bali ke Lombok kita tempuh ± 25 jam, itu sudah termasuk waktu sholat Jum’at di Bali. Kita saat di Lombok dapat tumpangan menginap di rumah teman SMAnya Bajuri, malam itu santai sejenak cari makan malam di dekat lokasi, selesai makan pulang dan lanjut tidur.

Pagi tanggal 26 Desember setelah subuh kita mulai berangkat lagi menuju Sembalun, tempat loket pendakian Gunung Rinjani. Biaya pendakian Rinjani ini Rp.7500 per orang per hari cukup murah bila dibandingkan dengan Semeru. Setelah pembayaran selesai, prepare ganti baju, titip motor di warga sekitar yang menyediakan tempat inap motor, menyempatkan beli sayur kangkung, tempe, dan bahan logistik tambahan lain untuk dimasak besok pagi.

Mulainya Trekking dan Bertemu Pendaki Ulung

Telah siap semua. Kita mulai trekking saat itu sekitar pukul 5 sore, sampai ke pos 2 sekitar pukul 9-10 malam. Kita mendirikan tenda dan langsung.. tidur semua..

Besok paginya tanggal 27 Desember bangun dan prepare sarapan. Makan ditemani view padang savana memang Mantap Mania.. Mancing. Oke setelah selesai makan, beres-beres lalu packing lagi. Lanjut meninggalkan pos 2 saat itu sekitar pukul 10 pagi, sampai ke pos terakhir Plawangan Sembalun sekitar pukul 4 sore.

Di sela-sela perjalanan menuju pos terakhir itu kita bertemu dengan salah satu pendaki ulung bernama Sinyo dari Malang, dia sudah di Lombok sejak 2 minggu yang lalu dengan satu temannya bernama Fajar mendaki beberapa perbukitan sebelum akhirnya melanjut ke Rinjani. Dia juga telah mendaki Rinjani sebanyak 9 kali, berarti dengan kita terakhir itu jadi 10 kali. Edyann..

Dengan adanya tambahan anggota sekarang kita menjadi berenam. Tidur jadi 1 tenda diisi 3 orang, yang sebelumnya 1 tenda diisi 4 orang cukup sesak. Setelah makan, main remi, mencoba foto-foto milky way dan tidak ada hasil memuaskan akhirnya tidur saja karena harus menyiapkan fisik prima untuk nanti malamnya summit.

Prepare dan Perjuangan Summit

Kita bangun sekitar pukul 1 dini hari dan mulai prepare summit dengan menyiapkan jaket, gaiter (penutup sepatu agar tidak ada kerikil masuk di sela-sela sepatu), minum dan snack secukupnya, serta jangan lupa mengunci tenda ya karena sempat tenda tetangga beberapa barangnya hilang. Telah siap semua kita start berangkat summit, dan sampai puncak pada tanggal 28 Desember sekitar pukul 7 pagi. Alhamdulillah. Saya sempatkan berfoto dengan seragam toga kelulusan karena sudah ada niat dari awal ‘harus foto di puncak pakai toga’ dan akhirnya niat terlaksana. Yeahh..

Setelah dirasa cukup berfotonya, kita turun dan langsung melanjut ke Danau Segara Anak. Kita sampai di tempat sekitar pukul 3 sore, teman-teman yang lain sembari menyiapkan makanan ada yang mulai memancing ikan sekitar pukul 5 sore. Ssungguh disitu ikannya berlimpah guys, mungkin baru awal pembukaan setelah Gunung Baru Jari meletus atau memang berlimpah dari sebelum-sebelumnya. Dan bisa dilihat juga foto-foto kita di bawah, air danaunya masih berasap. Mestinya saat itu kita tidak masih belum boleh ke lokasi Segara Anak, tapi berhubung pendaki ulung kita membolehkan ya berangkat saja. Jgn ditiru yang ini ya guys hehe..

Perjalanan turun dan berpisah dengan teman-teman seperjuangan

Paginya tanggal 29 Desember sekitar pukul 9 pagi kita prepare untuk turun kembali ke loket. Kita memilih kembali melewati jalur Plawangan Sembalun mengikuti pendaki ulung kita, sedangkan kebanyakan pendaki dari rombongan lain memilih jalur Senaru. Kita lanjutkan trekking tidak ada istirahat mendirikan tenda, akhirnya sampai di desa tempat kita menitipkan motor sekitar pukul 8 malam. Kita mengambil motor dan menginap di rumah teman mas Sinyo, bersantailah kita sampai tertidur masing-masing.

Pada tanggal 30 Desember sekitar pukul 8 pagi kita berempat berpamitan dengan 2 pendaki ulung kita dan orang rumah yang mengijinkan kita semalam untuk menginap. Perjalanan berlanjut bermotor menuju tempat menginap awal, di rumah teman SMA Bajuri. Saat itu setelah sampai di tempat, teman kita 2 orang yang dari Malang memutuskan untuk segera pulang malam itu juga. Sedangkan besoknya saya dan Bajuri masih ingin menyempatkan membeli oleh-oleh di Desa Sade, jadi kita akhirnya berpisah menjadi 2 orang 1 motor.

Menyempatkan membeli oleh-oleh dan lanjut perjalanan pulang

Besok pagi tanggal 31 Desember saya dan Bajuri menuju Desa Sade dan membeli beberapa oleh-oleh titipan keluarga. Mestinya ingin menambah kunjungan ke beberapa tempat di Lombok tetapi waktunya yang terlalu singkat, kita melanjutkan pulang sore itu juga sekitar pukul 4-5 sore. Malam tahun baru kita nikmati di atas kapal arah Lombok ke Bali. Kita sampai pelabuhan Padang Bai – Bali saat itu sudah memasuki tanggal 1 Januari 2016 pukul 3 dini hari, sempat kita mampir jam 6 pagi ke Pasar Seni Sukawati tetapi belum ada toko yang buka.

Pasarnya masih tutup akhirnya kita lanjut tancap ke pelabuhan Gilimanuk dan menyebrang ke Banyuwangi, sampai Banyuwangi kita bermotor sedikit santai. Terlalu banyak berhenti di sekitaran Probolinggo – Pasuruan, jadi kita baru sampai Surabaya sekitar pukul 11 malam. Dan Alhamdulillah telah sampai rumah dengan selamat.

Ceritanya jadi puanjangg ternyata. maklum perjalanan seminggu dirangkum jadi 1 posting jadinya ya begini nih hehe. Ini juga saya jadikan pengingat, bahwa saya pernah melakukan perjalanan keren ini. Terima kasih untuk dulur-dulur seperjuangan: Bajuri, Teguh, Mas Rizal, Mas Sinyo, Mas Fajar. Sampean ngethen pun!

Foto Sunset Pos Plawangan Sembalun
Foto Lengkap Teman Seperjuanan Rinjani

Oke cukup sampai sini ceritanya, kalau mungkin teman-teman ada tambahan cerita atau perjalanan keren lainnya bisa langsung sharing bareng-bareng di comment ya..

Sampai ketemu di perjalanan baru selanjutnya. Cheerrsss..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *